Selasa, 15 Desember 2009

BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X "CENDEKIA"

A. Mendengarkan dan Menanggapi Informasi









Dalam kehidupan sehari-hari sudah barang tentu kita mendengar atau mendengarkan berbagai informasi dari media elektronika, baik radio maupun televisi. Mendengar adalah masuknya suara dan bunyi ke alat pendengaran. Sedangkan mendengarkan adalah proses masuknya suara dan bunyi ke dalam alat pendengaran disertai dengan adanya aktivitas efektif dalam mengambil manfaat, teknik, dan kesungguhan.
Teknik mendengarkan informasi agar efektif yakni sebagai berikut :
1) Mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin
2) Menyingkirkan hal-hal yang dapat menggangu proses mendengarkan
3) Menuliskan pokok-pokok isi tuturan
4) Menyimpulkan pokok-pokok isi tuturan dalam bentuk ringkasan
5) Mengurangi sikap mendengarkan yang baik
6) Menyimpulkan isi tuturan, baik yang berupa fakta maupun opini
Tujuan mendengarkan informasi dari media elektronika yaitu :
1) Memahami isi tuturan melalui lafal, ujaran, dan intonasi
2) Memahami makna ujaran
3) Memberikan tanggapan terhadap isi informasi, baik yang berupa fakta maupun opini melalui sikap setuju atau tidak setuju
Cara menyampaikan tanggapan terhadap suatu informasi yaitu :
1) Disampaikan dengan bahasa yang baik dan benar
2) Dilandasi dengan argumentasi yang masuk akal
3) Tidak bersikap / bersifat mencemooh, menghina dan menyinggung perasaan
4) Menunjukkan bagian yang salah atau lemah dan bagian yang benar secara objektif dengan disertai fakta-fakta yang kongkrit
5) Tidak menunjuukkan rasa sentiment, jengkel, dan subjektivitas pribadi
6) Sampaikan dengan memegang prinsip kesantunan berbahasa dan memegang tata krama bicara


Lakukanlah kegiatan mendengarkan siaran dari radio atau televisi (misal : berita, iklan, sandiwara, kuis, talkshow, dialog interaktif, film, liputan khusus, dll). Tulis ulang isi siaran tersebut, lalu berikan tanggapanmu. Gunakan sistimatika penulisan tugas seperti berikut ini :
1. Nama stasiun televisi / radio : ……………………………………………………..
2. Judul siaran / nama acara : ……………………………………………………..
3. Pembawa acara : ……………………………………………………..
4. Pokok-pokok isi siaran / acara : ……………………………………………………..
……………………………………………………..
……………………………………………………..
……………………………………………………..
5. Tanggapan kamu terhadap isi siaran / informasi tersebut : …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………...………………………………………………...
NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd



Perhatikan wacana berikut ini, lalu :
1) Ajukan pertanyaan terhadap isi informasi pada wacana berikut ini.
2) Berikanlah tanggapanmu terhadap wcana di bawah ini.

SUDAHKAH KITA MENGELOLA SDM ?

Setiap kali menjumpai istilah dan sebutan baru dalam aktivitas kebudayaan ummat, setelah ditimbang-timbang ternyata masalahnya bukan hal yang baru. “Le Historie Se Repete“ kata orang Perancis, sejarah selalu berulang.
Salah satu istilah yang sering kita dengar adalah SDM (-maaf bukan SD Muhammadiyah-) namun Sumber Daya Manusia. Hampir satu abad yang lalu, sebelum istilah ini diperbincangkan oleh kebanyakan orang, KH. Ahmad Dahlan telah banyak bicara tentang perlunya mendirikan organisasi yang menangani SDM, hasilnya ruaar...biasa yaitu MOEHAMMADIJAH, melalui sekolah-sekolah dengan maksud meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM.
Ketika akhir-akhir ini, banyak calon pemimpin di negeri kita menawarkan tentang pentingnya SDM yang unggul, berbagai rayuan maupun konsep banyak disuarakan pada rakyat atau calon pemilih. Tetapi tunggu dulu, apa mereka yang calon pemimpin atau wakil rakyat ini paham tentang konsepsi yang mereka tawarkan? Konsepsi tentang pengembangan SDM yang merupakan langkah integral pembangunan karakter bangsa. Lalu bagaimana agar bangsa ini SDMnya selalu bisa up to date?
Dalam persoalan konseptual, sebenarnya ide pengembangan SDM telah menjadi satu tarikan nafas kita. Soal pendidikan sudah menjadi darah daging, otot dan jiwa kita dengan segala problematikanya. Misalnya, kemajuan peradaban dengan segala pengaruhnya telah melontarkan manusia menjadi materialistik. Orang meningkatkan mutu SDM hanya untuk meningkatkan kesejahteraan atau mengokohkan kedudukannya semata. Sementara kesadaran moral, etika, dan juga agama, terabaikan.
Sungguh ironis. Inilah potret yang ada. Alih-alih ingin meningkatkan mutu SDM, namun apa boleh buat masih jauh dari harapan. Dan hanya ketika mereka mulai butuh simpati rakyat, mereka seolah sebagai kekuatan pembawa solusi terhadap masalah ini. Atas nama rakyat mereka berwacana. Meski harus dipertanyakana lagi, pantaskah mereka bicara atas nama rakyat?
Politik atau kepercayaan politik mereka pahami hanya dapat ditempuh dengan seamplop angpao. Dan dengan cara itulah mereka menaklukkan hati rakyat. Inilah sebuah paradigma politik tanpa keseimbangan. Yaitu politik yang hanya mementingkan hasil sesaat, yang lupa akah ruh. Naudzubillah...
Dalam konteks persyarikatan, jauh-jauh hari Kyai Dahlan telah berpesan : Muhammadiyah dulu dan yang akan datang sangat berbeda. Maka jadilah guru, mister,.insinyur dan lainnya, lalu kembalilah kepada Muhammadiyah. Maka jika seandainya, dulu sudah ada hingar-bingar politik seperti sekarang, Kyai Dahlanpun akan berpesan jadilah politisi, dan kembalilah kepada Muhammadiyah.
Jika shohib-shohib Nahdhiyyin pernah bertekad kembali kepada khittah, barangkali hal serupapun harus kita lakukan. Kembali kepada niat dan tekadnya Kyai Dahlan dalam mengembangkan SDM yang komplit tanpa menduakan identitas. Ingat-ingat 7 pesan Kyai Dahlan : 1) Jangan sekali-kali menduakan idiologi Muhammadiyah dengan yang lain, 2) Jangan sentimen, jangan sakit hati bila menerima kritik dan celaan, 3) Jangan sombong dan berbesar hati bila menerima pujian, 4) Ikhlas dan murnikan hatimu bila seang berkorban, 5) Jangan ujub, kikir dan riya’. 6) Bersungguh hati dan tetap tegak pendirian, jangan goyah oleh kedudukan dan harta, 7) Janganlah kamu memilih pemimpin Muhammadiyah yang asal-asalan, yakni sudah sanggup tetapi asal-asalan melaksanakan tugasnya. Sudah sanggup tapi menyanggupi tugas lain. Sudah sanggup tapi banyak alasan menjalankan tugasnya.
Lantas? Disaat gencarnya apresiasi publik terhadap dunia politik, tidak ada salahnya Muhammadiyah menjadi garda terdepan dalam suplay kader dalam kancah politik kebangsaan. Saatnya kita mulai dari kader bangsa, kader ummat dan kader persyarikatan. Dan bukan sebaliknya. Tentunya kader yang tidak lupa dengan pesan Kyai Dahlan tersebut. Yakni disaat Muhammadiyah membutuhkannya, kader tersebut harus senantiasa siap menjadi ujung tombak Muhammadiyah.
Sudahkah Muhammadiyah di Pekalongan ini memiliki kader yang siap terus berjuang dan berdakwah bersama Muhammadiyah? Wallahua’lam bil as shawab...

*) Oleh : Imam Nurdin,SE
Penulis adalah Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kab. Pekalongan

Pertanyaan :
1) …………………………………………………………………………..
2) …………………………………………………………………………..
3) …………………………………………………………………………..
4) …………………………………………………………………………..
5) …………………………………………………………………………..
Tanggapan :
1) …………………………………………………………………………..
2) …………………………………………………………………………..
3) …………………………………………………………………………..
4) …………………………………………………………………………..
5) …………………………………………………………………………..
NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd
B. Identifikasi Unsur Karya Sastra

Unsur yang membangun karya sastra terdiri dari 2 macam yakni unsure intrinsik dan ekstrinsik.
a. Unsur Intrinsik
Adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri.
Yang termasuk unsur intinsik yaitu :
1. Tema
Adalah pokok persoalan yang terdapat dalam karya sastra
2. Latar / setting
Adalah segala petunjuk, keterangan, pengacuan, yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra.
3. Tokoh dan penokohan
Adalah unsur yang menunjuk pada orangnya / pelaku cerita (tokoh), sedangkan penokohan menunjuk pada sikap kualitas pribadi tokoh yang ditafsirkan oleh pembaca.

Berdasarkan peranannya, tokoh dikelompokkan menjadi 2 macam yakni :
1) Tokoh Utama
Adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam karya sastra tersebut. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan.
2) Tokoh Tambahan
Adalah tokoh yang kehadirannya dalam cerita hanya untuk melangkapi tokoh utama



Berdasarkan wataknya, tokoh dikelompokkan menjadi 3 macam yakni :
1. Tokoh Antagonis
Adalah tokoh yang berkarakter jahat / tidak baik
2. Tokoh Protagonis
Adalah tokoh yang dikagumi oleh pembaca karena berwatak baik.
3. Tokoh Tritagonis
Adalah tokoh yang menjadi penengah dan cenderung berwatak baik
Tiga cara untuk mengetahui karakter tokoh yakni melalui :
1) Gambaran di dalam cerita
2) Dialog antartokoh
3) Penilaian tokoh yang lain
4. Amanat
Adalah pesan atau nasihat yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, baik secara tersirat maupun tersurat.
5. Plot / alur
Adalah sambung-menyambungnya cerita secara kronologis (urut), jalan cerita dari awal hingga akhir yang dirangkaikan berdasarkan hukum sebab akibat.
Jenis-jenis alur yakni :
1) Alur maju (progresif)
2) Alur mundur (regresif)
Berdasarkan tahapannya, alur diurai dengan tahap sebagai berikut :
1) Pengenalan atau eksposisi
2) Penanjakan atau munculnya konflik di dalam cerita
3) Klimaks atau ketegangan / puncak cerita
4) Antiklimaks atau penurunan
5) Peleraian atau tahap penyelesaian (happy ending atau sad ending)

6. Sudut pandang
Adalah posisi pengarang dalam sebuah cerita
Jenis sudut pandang yakni :
1) Aku-an, adalah pengarang sebagai tokoh utama dalam cerita. Tokoh utama menyebut dirinya dengan kata aku, saya, ane, atau gue. Cerita yang dikisahkan seoleh-oleh merupakan kisah pengalamannya sendiri.
2) Dia-an, adalah pengarang sebagai pencerita yang hanya mengisahkan cerita pengalaman orang lain. Tokoh utamanya disebut dengan kata dia atau nama seseorang.
7. Majas / gaya bahasa
Adalah gaya bahasa dalam sebuah cerita.
b. Unsur Ekstrinsik
Adalah unsur yang membangun karya sastra yang berasal dari luar karya sastra itu sendiri. Diantara unsure ekstrinsik yaitu : biografi / riwayat hidup pengarang, pekerjaan, pendidikan, agama, idiologi pengarang, social ekonomi dan budaya, dan lainnya.

1) Carilah sebuah cerpen kemudian tentukanlah unsur-unsur intrinsiknya
2) Ketik dan jilid yang rapih tugasmu beserta cerpen yang kamu analisis

C. Memperkenalkan Diri dan Orang Lain dalam Forum Resmi









Jika pada suatu ketika kamu diminta tampil menjadi seorang moderator dan kamu menyatakan tidak mampu atau tidak bisa. Berikut ini akan kita pelajari teknik berbicara dalam forum resmi tersebut agar Anda memiliki kompetensi menjadi seorang moderator atau pembawa acara yang cakap dan mumpuni.
Hal-hal yang harus dipahami oleh seorang pembawa acara atau moderator yaitu sebagai berikut :
1) Memahami acara yang sedang dipimpinnya
2) Membuat rancangan acara
3) Menguasai situasi acara
4) Dapat menggunakan kalimat yang efektif, pemilihan kata yang tepat (diksi) dan penguasaan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan
5) Memiliki rasa percaya diri / tidak mudah minder
6) Tidak menampilkan gerakan yang berlebihan
7) Cakap dalam melakukan improvisasi dan pengembangan kreativitas sesuai dengan situasi dan kondisi.
Berikut ini merupakan beberapa proses komunikasi yang dilakukan moderator dalam sebuah forum resmi :
1. Membuka acara dengan menguraikan nama kegiatan, maksud dan tujuannya secara singkat.
2. Moderator memperkenalkan para pembicara. Hal-hal yang diperkenalkan biasanya telah ditulis dalam daftar riwayat hidup (Curiculum Vitae) meliputi; nama, tempat tanggal lahir, keluarga, hobi, riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, daftar prestasi, dan lain-lain.
3. Mempersilahkan pembicara untuk tampil
4. Untuk menuju rangkaian acara selanjutnya, moderator hendaknya terlebih dahulu menyampaikan komentar atau intisari
5. Bersikaplah secara adil terhadap pembicara dan audiens
6. Pimpinlah acara diskusi secara proporsional dan tidak memihak
7. Buatlah sebuah simpulan terhadap isi keseluruhan rangkaian acara secara singkat
8. Akhirilah seluruh rangkaian acara dengan mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada audiens.



1) Buatlah susunan acara pada sebuah kegiatan resmi dari pembukaan hingga penutupan acara
2) Susunlah kalimat pembuka sebagai seorang moderator pada sebuah acara

NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd

D. Memahami dan Menggunakan Imbuhan Afiks Ke-an
Dalam kehidupan ini, kita senantiasa mendambakan adanya sebuah keadilan. Kata keadilan secara kebahasaan terbentuk dari kata adil ditambah imbuhan ke-an

Perhatikan informasi berikut ini !

a.Fungsi imbuhan ke-an yaitu :
1) Membentuk kata benda
2) Membentuk kata kerja.
b.Makna imbuhan ke-an yaitu:
1) Menyatakan hal atau peristiwa yang telah terjadi.
Contoh : Ia menerima kenyataan itu dengan lapang dada.
2) Menyatakan tempat atau daerah.
Contoh : Hani bekerja di kedutaan RI





3) Menyatakan terkena atau menderita sesuatu.
Contoh : Sinta kesakitan akibat digigit kucing kesayangannya.
4) Menyatakan perbuatan yang tidak disengaja.
Contoh : Anto ketiduran didalam bus.
5) Menyatakan terlalu.
Contoh : Sepatu Riko kekecilan sehingga tidak bisa dipakai.
6) Menyatakan menyerupai.
Contoh : Gaya bicaranya kearab-araban.


1. Buatlah kalimat dengan kata-kata berikut ini, kemudian tentukanlah maknanya.
2. Carilah imbuhan Ke-an pada naskah berjudul Sudahkah Kita Mengelola SDM? Kemudian tentukanlah maknanya.


NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd




















Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini

1. Hal-hal apa sajakah yang harus dilakukan agar kegiatan mendengarkan dapat terjadi secara efektif?Jelaskan!
2. Bagaimana cara menyampaikan tanggapan terhadap suatu informasi ? Coba anda jelaskan!
3. Apa sajakah cara yang termasuk unsur intrinsik pada sebuah karya sastra ? Sebutkan!
4. Mengapa hal-hal yang termasuk unsur ekstrinsik dapat pula membangun suatu karya sastra? Coba anda jelaskan alasannya!
5. Buatlah kalimat pembuka dari seorang pembawa acara pada kegiatan perpisahan Siswa kelas XII.
6. Betulkan kesalahan penggunaan kata-kata sapaan pada kalimat berikut.
a. Para saudara-saudara sekalian yang saya selalu hormati.
b. Kita beri sambutan yang meriah Kepada Bpk Drs.Akhsanudin atas keberhasilannya mengangkat mutu dan citra sekolah ini.
c. Kepadanya waktu dan tempat kami persilakan.
7. Sebutkan makna imbuhan ke-an?

NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd














A.Mendiskusikan Masalah dan Memberikan Tanggapan










Bacalah naskah berita berikut dengan seksama dan berilah tanggapan!



1. Apa sajakah intisari permasalahan pada bacaan diatas? Coba sebutkan!
2. Apakah anda setuju atau tidak setuju terhadap isi naskah diatas.Coba paparkan argumentasimu!
3. Berikan saran dan pemecahan terhadap permasalahan yang ada !
4. Daftarlah kata-kata yang sulit pada bacaan diatas kemudian tentukan artinya !

NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd




B. Menceritakan Berbagai Pengalaman





Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mengalami suatu peristiwa yang berkesan, sebuah pengalaman hidup yang tidak mudah dilupakan.Pengalaman itu bias berupa hal yang lucu, menggembirakan, mengharukan, menyakitkan, menyedihkan ataupun yang lain.Pengalaman-pengalaman tersebut tentulah dapat menimbulkan suatu kenangan. Misalnya suatu saat kita bertemu dan berjabat tangan dengan Presiden, Gubernur, Bupati, atau tokoh idola kita.
Pernyataan yang bisa diucapkan untuk mengungkapkan pengalaman tersebut yaitu:
a. Peristiwa ini mana mungkin dapat aku lupakan
b. Ini merupakan peristiwa yang memukul keluarga kami
c. Saya sangat berkesan dengan pengalaman ini
d. Hal ini merupakan penglaman tersendiri bagi saya
e. Sungguh menakjubkan kejadian tadi sore


Tulislah pengalaman / peristiwa berkesan yang pernah kamu alami, bias berupa hal yang lucu, menyenangkan, mengharukan, atau yang lainnya.
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
NILAI PARAF GURU



Fahrudin Eko H.,S.Pd


C. Membaca Cepat





1. Definisi Membaca Cepat
Membaca cepat adalah kegiatan untuk menyerap secara cepat dari bacaan. Membaca cepat bukan semata-mata dengan secepat-cepatnya menyelesaikan bacaan, namun merupakan salah satu jenis membaca untuk memperoleh informasi, memehami gagasan penulis dengan cepat dan tepat.
2. Teknik Membaca Cepat

3. Cara Meningkatkan Kecepatan Membaca
4. Rumus Menghitung Kemampuan Membaca

Rabu, 18 Februari 2009


...sesungguhnya. Setelah kesulitan
akan datang kemudahan.
Maka apabila telah selesai mengerjakan satu karya,
bersungguh-sungguhlah...